Agama dan Tuhan Pandangan Kaum Atheis serta teori kebenaran


Apa yang anda pikirkan, yang menjadi orientasi dalam kehidupan anda saat ini, cara pandang mengenai diri dan masyarakat, mengenai hidup dan kehidupan dalam semua aspek, sangat dipengaruhi oleh paradigma yang anda ikuti dan berlaku dalam masyarakat. Bagaimana paradigma yang berlaku dan diikuti sebagian besar orang dalam suatu masyarakat, secara umum bisa kita cermati dalam logika stereotip

  1. Untuk Apa Beragama ?

Sebagaimana kita fahami, agama merupakan sebuah jalan bagi manusia untuk mencari kebahagiaan. Agama menjadi pedoman dan ajaran yang dikuti oleh banyak manusia, sebagai upaya untuk mendapatkan kebahagiaan. Orang beragama pada dasarnya adalah untuk mendapatkan  ebahagiaan. Namun bagaimana realitasnya? Banyak manusia beragama justru harus berhadapan dengan berbagai konflik. Suatu kelompok masyarakat ketika mereka mementingkan agamanya, maka masyarakat tersebut akan berhadapan secara diametral dengan masyarakat lain yang juga ingin menjalankan agamanya. Masyarakat muslim Palestina ketika atas nama agama, mereka mencoba mempertahankan tanah kelahirannya, harus berlawanan dengan tentara Israil, yang juga atas nama agama ingin merebut tanah suci agama Yahudi. Hampir tiap hari pemuda dan remaja Palestina dengan ketapelnya, dengan batu-batu kerikil harus berhadapan dengan tentara Isarail yang membawa senjata modern. Puluhan pemuda dan remaja Palestina menjadi korban pembantaian oleh tentara Israil hampir tiap hari.  Setelah kelompok Hamas memenangkan Pemilu 2006, 4 tahun lalu dan memimpin pemerintahan Palestina, terjadi penghentian bantuan dana dari Amerika Serikat dan dunia barat. Di negara Palestina sendiri terjadi pertentangan dan konflik internal antara kelompok Hamas dan kelompok Fatah (partai pemegang pemerintahan sebelumnya). Di Irak, dalam kepemimpinan Saddam Husein yang mengibarkan bendera ”Laa ilaaha illallah” harus menghadapi keganasan pasukan Amerika Serikat yang kemudian menghancur luluhkan negeri 1001 malam itu. Setelah Saddam Husein ditangkap dan dia dili, masyarakat Irak mengalami perang saudara, yaitu kaum Sunni dan kaum Syiah, saling baku hantam. Terjadi pengeboman oleh jamaah Sunni di Masjid milik kaum Syiah dan sebaliknya dilakukan pengeboman oleh jamaah Syiah di Masjid milik kaum Sunni. Di Ambon, beberapa tahun lalu juga terjadi peperangan dengan baku tembak, saling membunuh, dengan peralatan pedang, samurai, tombak, dan pistol rakitan antara kaum muslimin dan kaum nasrani. Konflik yang tak pernah ada habisnya juga terjadi antara organisasi NU dan Muhammadiyah, padahal dua organisasi ini sama-sama dari kelompok muslim. Barangkali di tingkat pimpinan, ada upaya untuk meredam konflik itu, namun di kalangan masyarakat bawah, masih sering mereka tidak bersedia untuk duduk dalam satu forum. Dalam beberapa tahun belakangan ini, kaum muslim Indonesia juga mengalami ketakutan dan kekhawatiran jika menunjukkan identitas keislamannnya, karena distampel 2 sebagai teroris. Mereka yang dicurigai teroris, akan ditangkap oleh pasukan detasemen 88 antiteror dan harus melakukan serangkaian proses pemeriksaan. Dengan beragama diharapkan akan mendapatkan ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan malah yang didapat sebaliknya, ketakutan dan kecemasan. Apa yang saya uraikan merupakan realitas di depan mata yang pada akhirnya memunculkan pernyataan yang stereotip, untuk apa kita beragama jika agama justru mengantarkan kita pada peperangan, kehancuran, hilangnya kedamaian? Banyak orang akhirnya tak mau peduli terhadap ajaran agamanya, cenderung bersikap pasif, cuek bahkan tak mau membawa konsep agama dalam kehidupannya, khususnya dalam masyarakat.

2. Agama Sebagai Candu Masyarakat.

Agama bagi sementara orang hanyalah tempat pelarian dari permasalahan hidup. Ketika seseorang mengalami banyak masalah seperti kemiskinan, ketidakberdayaan, kesengsaraan, maka dia akan  mencari suatu kekuatan yang dianggapnya dapat menolongnya dari permasalahan hidupnya. Kekuatan tersebut dipercaya dapat membantunya memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Demikian anggapan yang ada pada sebagian masyarakat. Anggapan semacam ini juga didukung dan diperkuat oleh pemikiran Karl Marx (1818-1883), seorang ahli filsafat kelahiran Jerman. Menurut Marx, agama sebagai candu masyarakat. Dalam pandangan Marx, agama memang pantas disebut sebagai candu masyarakat karena seperti candu, ia memberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seorang yang sedang terbius oleh candu/opium dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang dihadapinya. Ketika orang sedang masuk dalam penderitaan yang dibutuhkan tidak lain adalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup, kendati hanya sesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untuk meringankan penderitaan dalam dunia real. Pertanyaan filosofis yang diajukan Marx adalah: Mengapa masyarakat harus memiliki ilusi? Mengapa pula masyarakat membutuhkan ilusi-ilusi religius? Bagi Marx, agama merupakan medium dari ilusi sosial. Dalam agama tidak ada pendasaran yang real-obyektif bagi manusia untuk mengabdi pada kekuasaan supranatural. Hal ini bisa dijelaskan dari bagaimana agama berkembang. Agama berkembang karena diwartakan oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang didukung oleh orangorang yang memiliki kekuasaan itu. Agama tidak berkembang karena ada kesadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena ada keasadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracuni masyarakat. Karena itu, komunitas yang sefaham dengan Marx berpandangan agama hanya menghambat kemajuan dan modernisasi. Dengan berbagai aturan, norma, dogma-dogma dan kaidah yang ada dalam ajaran agama membuat masyarakat terbelenggu, terhambat dalam produktifitas maupun kreativitasnya, dan tak bisa melakukan peningkatan kebudayaan dan peradaban bagi perkembangan masyarakatnya. Karena itu agama harus ditolak dan ditinggalkan.

3. Segala Yang Ada : Materi?

Keraguan tentang konsep agama sebagai pedoman hidup yang bisa membawa manusia mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, berlanjut pada keraguan akan Tuhan. “Sesuatu” yang menjadi pokok keyakinan orang beragama. Mereka pun meragukan keberadaan Tuhan. Segala yang ada adalah materi. Materi adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan terpengaruh oleh waktu. Materi tersusun dari partikel-partikel yang terdalam, tidak dapat rusak, kecil, bulat, keras, yang dinamakan atom-atom. Atom-atom tersebut bukan hanya tidak pernah terjadi atom-atom baru. Ini berarti bahwa semua bentuk materi hanyalah merupakan pengelompokan baru atom-atom tadi, sebagai semula diyakini kebenarannya, hukum kekekalan materi (Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat,) Alam semesta dan manusia menurut paham ini juga materi. Mahluk hidup sebagai materi tersusun dari partikel-partikel hidup yang disebut sel- Sel pada mahluk hidup akan mengalami kerusakan dan digantikan dengan yang baru. Itulah yang terjadi pada binatang, manusia maupun alam semesta. Materi merupakan awal dan akhir suatu kehidupan. Orang yang berfaham materialisme menganggap bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka. Menurut Ludwig Feuerbach (1804-1872), hanya alamlah yang ada. Manusia adalah alamiah juga. Yang penting bagi manusia bukan akalnya, tetapi usahanya. Sebab pengetahuan hanyalah alat agar usaha manusia berhasil. Kebahagiaan manusia dapat dicapai di dunia ini. Oleh karena itu menurutnya, agama dan metafisika harus ditolak. Menurut Feuerbach, agama timbul dari sifat egoisme manusia yang mendambakan kebahagiaan. Apa yang tidak ada pada manusia tetapi didambakannya, digambarkan sebagai kenyataan yang ada pada para dewa (atau Tuhan). Karena itu, Dewa (atau Tuhan) sebenarnya merupakan keinginan manusia. (Drs A. Chairil Basori, Filsafat, 1987) Penganut faham materialisme, menganggap sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Adanya Tuhan tak dapat dibuktikan. Mereka lebih percaya Tuhan itu tidak ada. Jika keberadaan Tuhan tidak diakui, maka secara otomatis ajaran dan kebenaran yang bersumber darinya yaitu agama pun tidak diakui. Paling tidak bagi mereka yang berpaham materialisme, menolak keberadaan Tuhan. Akibat penolakan atas keberadaan Tuhan, mendorong penganut paham ini bebas melakukan tindakan yang mereka sukai, tanpa rasa takut akan mendapat murka dari Tuhan.

4. Tuhan, Hasil Rekayasa Pikiran?

Pada masyarakat yang tidak mengakui dan menolak keberadaan Tuhan, juga berpendapat bahwa adanya Tuhan pada kepercayaan orang-orang beragama, hanyalah hasil rekayasa pikiran. Manusia merupakan makhluk yang berakal, yang mampu berfikir, maka dengan pikirannya dia bisa mengadakan obyek tertentu dalam alam pikirannya. Tokoh rasionalis Rene Descartes (1596-1650) menyatakan “cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir, maka aku ada. Adanya aku, sebagai manusia, nyata ada jika aku berpikir. Dan dengan berpikir, manusia bisa menjadikan segala sesuatunya menjadi “mengada”. Tuhanpun menjadi ada, dengan cara dipikirkan. Jika manusia berpikir Tuhan ada, maka jadilah Dia ada. Sebaliknya, jika Tuhan tidak dipikirkan, maka Tuhan tidak ada. Dengan cara yang sama, pembaca bisa berpikir mengenai seorang wanita cantik berambut pirang, maka akan muncul dan menjadi ada dalam alam pikiran pembaca seorang wanita cantik berambut pirang. Pun pembaca bisa berpikir mengenai seekor harimau besar berwarna putih yang siap menerkam, maka akan muncul dan menjadi ada dalam alam pikiran pembaca, seekor harimau besar berwarna putih yang siap menerkam. Meski dalam alam nyata tak pernah ada di depan pembaca. Demikianlah, analogi yang sama mereka anggap, bahwa adanya Tuhan adalah hasil rekayasa pikiran manusia. Perkembangan pemikiran manusia baik perorangan maupun masyarakat, manurut Auguste Comte (1798-1857) berlangsung dalam tiga zaman yaitu zaman teologis, metafisis dan zaman positif.

a. Zaman Teologis

Zaman dimana manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam, terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Pada masyarakat primitive, mereka percaya benda-benda seperti batu, pusaka, keris, dan sebagainya mempunyai kekuatan atau berjiwa (animisme), sehingga mereka begitu mengagungkan dan memuliakan benda-benda tersebut. Pada tahap selanjutnya, manusia percaya akan adanya Dewa-dewa (politheisme), sehingga mereka mengagungkan dan melakukan penyembahan terhadap Dewa-dewa tersebut, seperti Dewa Matahari, Dewa Padi, Dewa Gunung, Dewa Cinta. Dewa Pemberi Harta dan lain-lainnya. Mereka bahkan siap mengorbankan apapun agar Sang Dewa tidak murka pada masyarakat. Selanjutnya, manusia percaya adanya satu kekuatan besar, pemimpin para Dewa atau terkumpulnya Dewa-dewa menjadi satu yaitu Tuhan yang Maha Kuasa. (monotheisme).

b. Zaman Metafisis

Kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa itu, kekuatan adikodrati diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak. Mereka percaya benda-benda di alam semesta itu menyimpan energi, yang dengan suatu cara tertentu kekuatan energinya dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan dan kepentingan hidup masyarakat.

c. Zaman Positif

Ketika masyarakat tidak lagi berusaha mencapai pengetahuan tentang yang mutlak baik dari sisi teologis maupun metafisis. Manusia berusaha mendapatkan hukum-hukum dari fakta-fakta yang didapatinya dengan pengamatan dan akalnya. Tujuan tertinggi dari zaman ini, akan tercapai bilamana gejala-gejala telah dapat disusun dan diatur di bawah satu fakta yang umum saja. Hukum ketiga tahap zaman tersebut tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap perseorangan. Umpamanya sebagai kanak-kanak adalah seorang teolog, sebagai pemuda menjadi metafisikus, dan sebagai orang dewasa adalah seorang fisikus. (Drs A. Chairil Basori, Filsafat,) Pada tahap positivisme, manusia telah mampu dengan akal dan pengetahuannya mengatasi setiap permasalahan. Dengan telah ditemukannya lampu listrik, mesin jahit, mesin industri, traktor dan sebagainya, maka seluruh kebutuhan hidup manusia dapat dipenuhi dengan mempergunakan akal dan pengetahuannya. Maka pada tahap ini manusia tidak lagi membutuhkan Dewa-dewa maupun Tuhan untuk membantu mengatasi permasalahannya.

5. Tuhan Telah Mati?

Dengan kemampuan akal dan pengetahuannya, manusia bahkan berkeinginan untuk bisa menguasai alam. Kehendak untuk berkuasa merupakan dasar dan sumber tingkah laku manusia. Kehendak untuk berkuasa memasuki semua bidang kegiatan manusia: kesadaran hidup, perwujudan nilai-nilai agama, kebudayaan dan lain-lain. Kehendak untuk berkuasa bahkan merupakan kenyataan yang benar akan dunia ini. Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa, lain tidak. Inilah salah satu pokok pikiran Friedrich Nietzsche (1844 – 1900), tokoh filsafat yang Anti-Theisme. Menurut Nietzsche, kehendak untuk berkuasa ini nampak dalam ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia ingin menyelidiki dunia untuk menemukan kenyataan dunia yang menjadi. Dengan ilmu, semua yang ada diubah kedalam bentuk-bentuk yang pasti. Maka ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai penjelmaan alam menjadi konsep-konsep, dengan tujuan untuk menguasai alam. Agama juga dinyatakan sebagai perwujudan kehendak untuk berkuasa. Semua agama hakekatnya berasal dari kehendak untuk berkuasa. Karena kehendak untuk berkuasa ini tidak dapat dipenuhi dengan kekuatan manusia sendiri, maka manusia menyerahkan usahanya kepada pribadi yang lebih tinggi. Manusia lari kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena ia sendirian tidak dapat mengalahkan kekuatan yang dihadapinya. Bagi Nietzsche, manusia yang ideal adalah superman. Dengan superman kehendak untuk berkuasa atas dunia menjadi sempurna. Sejarah akan mencapai kesudahannya pada kehadiran manusia superman ini. Superman adalah manusia yang mengetahui bahwa Tuhan telah mati, bahwa tidak ada sesuatupun yang melebihi atau mengatasi dunia ini. Superman akan muncul bila manusia telah mempunyai keberanian untuk mengubah system nilai, untuk menghancurkan nilai-nilai yang ada terutama nilai-nilai lama, dan menyusun dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang melebihi sebelumnya. (Drs A. Chairil Basori, Filsafat,) Pernyataan yang cukup berani dari Nietzche bahwa “God is dead” (Tuhan telah mati) telah mampu membuat masyarakat yang anti Tuhan untuk melangkah dengan keyakinan diri yang penuh, untuk melakukan kreativitas yang liberal. Jika tuhan telah mati dengan segala perintah dan larngannya, maka berarti dunia sudah terbuka untuk sebuah kebebasan dan kreativitasnya. Segalanya berjalan dengan sendirinya, alam semesta bergerak dan berputar mengikuti hokum alam, tanpa campur tangan lagi dari Tuhan. Demikianlah, pemikiran yang liberal semacam ini banyak yang melanda masyarakat modern, yang meski tidak secara terus terang, telah menganggap bahwa God is dead. Tuhan telah mati!

6. Manusia Sebagai Makhluk Pencari Kebenaran.

Namun tidak semua masyarakat mengikuti pemikiran para ahli filsafat yang anti Tuhan itu. Banyak diantara mereka yang tidak pernah puas dengan penjelasan para ahli  pikir dunia masa lampau. Manusia menyadari bahwa dirinya berbeda dengan binatang. Adanya akal yang melengkapi makhluk bernama manusia, membedakannya dari makhluk yang lain. Dengan akalnya manusia terus bertanya, mencari jawaban atas setiap pertanyaan. Pertanyaan yang paling mendasar adalah Siapakah aku? Dari mana aku? Hendak kemana Aku? Pertanyaan-pertanyaan ini terus mengusiknya yang membutuhkan jawaban yang memuaskan. Termasuk pertanyaan tentang Tuhan dan alam semesta? Manusia ingin mengetahuinya dengan cara bertanya dan berpikir. Dengan menggunakan akalnya inilah manusia berusaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul pada dirinya. Menurut Endang Syaifudin Ansori, Manusia adalah hewan yang berpikir. Berpikir adalah bertanya. Bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari kebenaran akan Tuhan, alam dan manusia. Jadi pada akhirnya : Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. (Endang Syaefuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama,) Lalu apa itu kebenaran? Dalam dunia ilmu pengetahuan, kebenaran adalah kebenaran ilmiah, suatu pengetahuan yang jelas dari suatu obyek materi yang dicapai menurut obyek forma (cara pandang) tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu system yang relevan. Pengetahuan demikian ini tahan uji baik dari verifikasi empiris maupun yang rasional. Dalam pembahasan tentang teori kebenaran, Endang mengemukakan tiga teori yaitu teori korespondensi, teori konsistensi dan teori pragmatis. Uraian tiga teori itu dijelaskan sebagai berikut.

a. Teori korespondensi (coorespondence theory)

Adalah kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian (correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya. Menurut teori korespondensi, suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu adalah berkorespondens (bersesuaian) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Dengan kata lain, kebenaran itu adalah suatu pernyataan yang sesuai dengan kenyataan (fakta), tanpa memperhatikan idea atau pikiran. Contohnya “di luar rumah udaranya dingin”, pernyataan ini benar jika faktanya ketika kita keluar rumah memang udaranya dingin. b. Teori konsistensi (consistence theory)

Teori ini disebut pula coherence, adalah kebenaran, tidak dibentuk atas hubungan antar putusan (gudgement) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Atau secara sederhana dapat dikatakan nahwa menurut teori konsistensi, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten atau koheren dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar, tanpa mempedulikan fakta yang ada. Contohnya, “murid SMK Satu Bulukumba pintar-pintar” adalah pernyataan awal (terdahulu) yang benar. “Andryan adalah murid yang pintar”, pernyataan ini dianggap benar jika Andryan adalah murid SMK Satu Bulukumba. Dasar pembenaran pernyataan “Andryan murid yang pintar” karena koheren dengan pernyataan sebelumnya, “murid SMK Satu Bulukumba pintar-pintar”.

c. Teori pragmatis (pragmatic theory)

Suatu proposisi adalah benar sepanjang proposisi itu berlaku, atau memuaskan. Menurut teori pragmatis, kebenaran bergantung kepada kondisi-kondisi yang berupa manfaat (utility), kemungkinan dapat dikerjakan (workability) dan konsekuensi yang memuaskan (satisfactory results). Dengan perkataan yang lebih sederhana, sesuatu dianggap benar jika itu mempunyai manfaat fungsional atau menguntungkan dalam kehidupan praktis. Contohnya, pernyataan “system komputerisasi kantor adalah baik”. Pernyataan tersebut benar karena penggunaan computer di kantor-kantor sangat membantu proses (memper mudah dan mempercepat kerja) kegiatan di kantor. Ketiga teori ini meski tidak seluruhnya tepat, namun yang paling mendekati adalah teori korespondensi, dimana pernyataan bisa dikatakan benar jika faktanya sesuai dengan pernyataan. Bagaimana manusia dalam upaya mencari kebenaran? Jika permasalahan yang dipertanyakan menyangkut masalah-masalah idea, filsafat atau metafisika maka sulit untuk bisa memperoleh jawaban sebagai kebenaran. Siapa aku sebenarnya? Untuk apa aku hidup? Kemana aku nantinya? Benarkah Tuhan itu ada? Bagaimana membuktikannya? Mencari jawaban atas pertanyaan tersebut sangatlah sulit, demikianlah untuk menemukan kebenaran tentang permasalahan yang essensial dalam kehidupan manusia tidaklah bisa dicapai dengan teori-teori diatas.

7. Mencari Kebenaran Dengan Metodologi Ilmiah

Bagaimana cara kita mendapatkan suatu kebenaran. Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita mengenal apa yang dinamakan metodologi ilmiah. Metode ilmiah adalah sebuah cara untuk mencari sebuah kebenaran. Kebenaran ilmiah ini harus memenuhi persyaratan empiris, obyektif, rasional, dan sistematis. Empiris berarti suatu kebenaran berdasarkan pengalaman yang dapat ditangkap dengan pancaindra. Pengetahuan tersebut berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap dengan pancaindranya. Sehingga kebenaran tersebut dapat juga diketahui oleh orang lain sebagai kebenaran yang dapat ditangkap dengan pancaindranya pula. Misalnya kebenaran mengenai air yang dipanaskan dalam suhu 100 derajat celcius akan mendidih. Ini merupakan kebenaran yang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah dijalani manusia, maka terhadap hal tersebut secara empiris manusia lainpun akan menemui hal yang sama. Obyektif berarti suatu kebenaran harus mengandung nilai obyektifitas, berdasarkan fakta yang menjadi obyek pengetahuan, bukan berdasarkan yang menilai atau yang mengamati (subyek-nya). Sebuah kebenaran harus dapat dibuktikan oleh orang lain dan akan memperoleh pengetahuan yang sama. Misalnya air akan bergerak mengalir pada tempat yang lebih rendah atau menurun. Kebenaran demikian dapat dibuktikan orang lain dan diperoleh pengetahuan yang sama pula. Rasional berarti kebenaran tersebut bersumber dari akal (rasio) atau pikiran manusia, dimana pengalaman-pengalaman hanya sebagai perangsang bagi pikiran. Kebenaran demikian merupakan kesimpulan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan menjadi pengetahuan dalam akal manusia. Bahkan tanpa perlu pembuktianpun, kebenaran itu tak terbantahkan. Misal, pernyataan garis lurus merupakan jarak terdekat diantara dua buah titik, maka kita mau tidak mau harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut. Sistematis berarti berurutan, yakni dalam menemukan kebenaran harus melalui proses yang berurutan. Dalam suatu penelitian ilmiah, sistematis itu bila dilakukan melalui tahapan-tahapan memilih dan merumuskan masalah, menyusun latar belakang teoritis, menetapkan hipotesis, menetapkan variable, memilih alat pengump[ulan data, menyusun rancangan penelitian, menentukan sample, menyimpulkan dan menyajikan data, mengolah dan menganalisis data, menginterpretasi hasil analisis dan mengambil kesimpulan, menyusun laporan dan mengemukakan implikasi. Untuk menghasilkan sebuah kebenaran ilmiah juga harus didukung dengan berpikir dan bersikap ilmiah yaitu dengan tahapan skeptis, analitis, dan kritis. Skeptis adalah upaya untuk selalu menanyakan bukti-bukti atau fakta-fakta terhadap setiap pernyataan. Analitis adalah kegiatan untuk selalu menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan, mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya. Kritis adalah berupaya untuk mengembangkan kemampuan menimbangnya selalu obyektif. Untuk ini maka dituntut agar data dan pola berpikirnya selalu logis.

8. Asal Usul Kehidupan

Untuk mengetahui realitas kehidupan manusia dan alam semesta, pertanyaan yang muncul mengemuka adalah bagaimana awal mula kehidupan di dunia ini. Siapakah yang menciptakan alam semesta dan bagaimana proses penciptaannya? Dalam buku pelajaran Biologi Kelas III di SMA, kita dapatkan penjelasan mengenai asal-usul kehidupan. Bagi mereka yang sempat duduk di bangku SMA Jurusan IPA/Biologi, tentu pernah mendapatkan sub materi pelajaran Asal Usul Kehidupan ini. Ada beberapa teori yang dikemukakan yaitu teori-teori abgiogenesis, biogenesis, kosmozaik, evolusi kimia dan evolusi biologi.

a. Teori Abiogenesis

Menurut teori Abiogenesis, kehidupan berasal dari materi yang tidak hidup atau benda mati dan terjadi begitu saja (spontan). Itulah sebabnya, teori ini dinamakan pula teori generatio spontanea. Teori abiogenesis ini dikemukakan pertama kali oleh Aristoteles (334 – 332 SM), seorang filsuf dan ilmuwan Yunani Kuno. Teori ini bertahan ratusan tahun. Munculnya teori ini didasarkan pada pengamatan sederhana terhadap apa yang mereka lihat di sekelilingnya tanpa didukung oleh peralatan yang memadai. Sebagai contoh, karena cacing berada di dalam tanah, maka cacing berasal dari tanah. Dengan alasan yang sama, mereka menganggap katak berasal dari Lumpur, belatung berasal dari daging yang membusuk, dan sebagainya. Pada abad 17, Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop. Penemuan mikroskop ini membuka cakrawala baru bagi dunia sains. Namun bagi para pendukung teori abiogenesis, adanya makhluk hidup kecil yang mereka lihat melalui mikroskop makin memperkuat mereka tentang teori abiogenesis tersebut.

b. Teori Biogenesis

Teori biogenesis merupakan lawan dari teori abiogenesis. Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula. Teori biogenesis mendapat dukungan dari Francesco Redi (1626 – 1697), Lazzaro Spallanzani (1727 -1799) dan Louis Pasteur (1822 -1895). Ketiganya melakukan percobaan untuk membuktikan teori biogenesis. Francesco Redi mengadakan serangkaian percobaan dengan bahan daging yang dimasukkan ke delapan stoples dengan kondisi yang berbeda-beda. Setelah beberapa hari di dalam stoples yang terbuka, Redi mendapatkan larva, sedangkan di dalam stoples yang tertutup tidak terdapat larva Berdasarkan percobaan ini, Redi berkesimpulan bahwa larva bukan berasal dari daging, melainkan berasal dari telur lalat yang disimpan dalam daging. Lazzaro Spallanzani juga melakukan percobaan dengan menggunakan dua tipe medium dengan prinsip yang sama dengan Redi, tetapi dengan rancangan yang lebih sempurna. Berdasarkan hasil percobaan Spallanzani, ditemukan kenyataan bahwa udara memberi pengaruh besar terhadap terbentuknya kekeruhan pada air kaldu,membuat para pendukung abiogenesis menolak hasil percobaan spallanzani. Mereka menganggap udara mempunyai daya hidup (vital force) yang dapat memicu terbentuknya kehidupan. Konsep tentang adanya daya hidup yang diyakini pendukung teori abiogenesis membuat Louis Pasteur berpikir bagaimana merancang percobaan yang memungkinkan udara (daya hidup) tetap dpat berhubungan dengan labu tetapi tidak mempengaruhi isi labu. Hasil percobaan Pasteur menunjang teori biogenesis dan sekaligus menumbangkan teori abiogenesis. Teori biogenesis dapat dirumuskan dalam postulat berikut ini. Omne vivum ex ovo yang berarti makhluk hidup berasal dari telur, omne ovum ex vivo yang berarti telur berasal dari makhluk hidup, dan omne vivum ex vivo berarti makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.

c. Teori Kosmozoik

Teori ini dikemukakan oleh Richter (1865) dan didukung oleh Thompson, Helmholtz dan Van Tieghan. Menurut teori ini, benda-benda langit yang panas berpijar pada bagian permukaannnya saja. Bagian-Bagian dalamnya tetap dingin sehingga embrio suatu organisme yang menempati bagian dalamnya tetap hidup. Selanjutnya, organisme-organisme menyebar sampai ke bumi dan tumbuh subur di bumi. Kemudian organisme-organisme ini berkembang dan berevolusi hingga menghasilkan seluruh spesies yang ada sekarang ini.

d. Teori Evolusi Kimia

Menurut salah satu teori, system tata surya (solar system) terbentuk dari kabut gas di angkasa. Gaya gravitasi yang timbul menyebabkan terjadinya kontraksi sehingga menaikkan suhu pusat massa. Kontraksi ini menyebabkan terbentuknya suatu bintang baru (matahari). Bintang ini dikelilingi lingkaran gas dan debu yang merupakan asal  mula terbentuknya planet-planet. Meteorit terbentuk sekitar 4550 juta tahun yang lalu; bulan 4600 juta tahun yang lalu dan bumi 4550 juta tahun yang lalu, membuktikan bahwa system tata surya berumur kira-kira 5000 juta tahun atau 5 milyar tahun. Kondisi bumi pada awal pembentukan sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Pada saat itu, suhu permukaan bumi antara 4000-8000 derajat celcius. Sewaktu permukaan bumi mulai dingin, senyawa-senyawa karbon  dan unsure logam membentuk lapisan bumi bagian dalam (mantel), tersusun dari batuan yang mencair dan terdiri atas senyawa silicon, aluminium, besi dan sebagainya. Para ilmuwan berpendapat bahwa pada saat itu di atmosfer terkumpul gas-gas ringan, seperti hydrogen (H2), helium (He), argon (Ar), nitrogen (N), dan oksigen(O2). Akibatnya, di atmosfer terbentuk senyawa-senyawa yang mengandung unsure-unsur ringan, misalnya uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan ammonia (NH3). Pada saat suhu atmosfer turun menjadi sekita 100 derajat Celcius, terjadi hujan air mendidih selama beberapa ribu tahun. Pada kondisi seperti ini, kehidupan di bumi tidak mungkin terbentuk, tetapi sangat memungkinkan terjadi reaksi-reaksi kimia karena tersedianya materi dan energi yang berlimpah.

e. Teori Evolusi Biologi

A.I. Oparin dalam bukunya Asal Mula Terjadinya Kehidupan (The Origin of Life), mengemukakan bahwa asal mula kehidupan terjadi di lautan melalui pembentukan senyawa-senyawa organic dari senyawa-senyawa sederhana seperti H2O, CO2, CH4, NH3 dan H2, yang memang berlimpah pada saat itu. Pembentukan senyawa organic ini dibantu oleh energi radiasi benda-benda angkasa yang juga sangat intensif pada saat itu. Senyawa kompleks pertama diduga semacam alkohol dan asam amino yang selama jutaan tahun senyawa-senyawa ini bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks, seperti asam organic, purin dan pirimidin. Senyawa-senyawa ini merupakan bahan pembentuk sel.

9. Evolusi Menurut Darwin

Charles Robert Darwin seorang biolog Inggris mengemukakan teori evolusinya melalui buku yang berjudul The Origin of Species by Means of Natural Selection (Asal Mula terjadinya Spesies melalui Seleksi Alam) pada tahun 1859. dalam buku tersebut Darwin menyatakan bahwa semua makhluk hidup memiliki leluhur yang sama dan bahwa mereka berkembang satu sama lain dengan cara seleksi alamiah. Mereka yang terbaik dalam beradaptasi dengan lingkungan mewariskan perilaku mereka ke generasi berikutnya, dan lambat laun, sifat-sifat yang menguntungkan ini mengubah individuindividu menjadi spesies yang berbeda total dari leluhur mereka. Dengan demikian, manusia ialah produk yang paling maju dari mekanisme seleksi alamiah ini. Singkatnya, suatu spesies berasal dari spesies lain. Dua teori evolusi pokok yang terkandung dalam buku tersebut adalah sebagai berikut (a) Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa lampau. Dan (b) Evolusi terjadi melalui seleksi alam. Ahli evolusi lain, Alfred R. Wallace (1823-1913) ternyata mempunyai pemikiran yang sama dengan pemikiran Darwin, meskipun diantara mereka tidak saling mengenal. Pemikiran mereka disajikan bersama dalam pertemuan antar ilmuwan di London yang tergabung dalam Linneon Society of London pada tanggal 1 Juli 1858. Sejak saat itu teori evolusi Darwin didukung oleh banyak ilmuwan di dunia.Menurut teori evolusi Darwin, manusia merupakan hasil proses evolusi dari spesies lain yang hidup lebih dahulu yaitu kera. Dalam perkembangan selanjutnya, oleh para pendukung teori evolusi ini dengan mengemukakan teori neo-Darwinisme. Menurut teori ini spesies berkembang sebagai hasil dari mutasi-mutasi, perubahan-perubahan kecil dalam gen mereka, dan yang paling sesuailah yang bertahan hidup melalui mekanisme seleksi alam. Selanjutnya mereka juga mengembangkan teori punctuated equilibrium (keseimbangan bersela) yang menyatakan bahwa makhluk hidup tiba-tiba berkembang menjadi spesies lain, meski tanpa bentuk transisinya. Dengan kata lain, spesies tanpa ‘nenek moyang’ evolusioner tiba-tiba muncul. Menurut teori evolusi, manusia dan kera modern mempunyai leluhur yang sama. Makhl-makhluk ini berkembang seiring dengan waktu dan beberapa diantara mereka menjadi kera-kera masa kini, sedangkan sekelompok lain yang mengikuti cabang evolusi lain menjadi manusia manusia masa kini. Para evolusionis menyebut ‘leluhur bersama’ pertama manusia dan kera ini ‘Australopithecus’ yang berarti ‘Kera Afrika Selatan’. Terdapat berbagai jenis Australopithecus, yang hanya spesies kera lama yang telah menjadi berbeda. Sebagiannya tegap, sementara yang lainnya kecil dan rapuh. Para evolusionis menggolongkan tahap evolusi manusia berikutnya sebagai ‘Homo’, yakni ‘manusia’. Menurut klain evolusionis, makhluk hidup dalam tahap ‘homo’ ini lebih berkembang dari pada Australpithecus, dan tidak banyak berbeda dari manusia modern. Manusia modern masa kini, Homo sapiens, konon terbentuk pada tahap terakhir evolusi spesies ini. (Harun Yahya, Allah is Known Through Reason, 58-59) 10. Dimanakah Tuhan? Dalam uraian mengenai teori-teori pengetahuan dan hasil dari penelitian sains diatas, belum ada yang bisa tuntas membahas dan membuktikan adanya Tuhan. Dimanakah Tuhan? Tak ada ilmuwan yang mampu menjawab pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan dan memberikan bukti-bukti secara ilmiah.

About these ads

14 responses to this post.

  1. Agama membantu kita menuju jalan kesurga. dan didalam kitab suci di berikan pelajaran dan pengajaran serta rambu-rumbu tentang kehidupan dan bagaimana menghadapinya serta menuju jalan kebenaran.

    dan jangan salah jalan ….

    Reply

    • makasih telah mampir dan makasih atas komentarnya sob, artikel tersebut hanyalah sekedar teori dan paham-paham para ilmuan dan kaum ateis, semuah hanya tuhan yang tahu tapi tidak menutup kemungkinan untuk mecari tahu tentang beberapa pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran denganb secara fakta

      Reply

  2. Posted by yandri on October 5, 2010 at 8:35 pm

    Dalam Islam,kami diajak berpikir tentang alam semesta yang luas. bagaiman langit ditinggikan tanpa ditopang sebuah tiang ataupun banyak tiang. Diumpamakan bekas jejak kaki seseorang. Maka, jejak kaki yang tertinggal, tidak mungkin ada tanpa ada sesorang yang menginjak

    Reply

  3. Q mw nany ni . .
    Bagaimana pandangan Tuhan terhadap agama dan pandangan agama terhadap Tuhan?

    Buat yg ngejawab, baik kakak, abg, ibu, bapak..
    Mksi sblm ny y..
    God blesS . .

    Reply

    • ko pandanga tuhan terhadap agama yah manalah ku tahu tanya tuhan ah he he he,
      trus pandangan agama terhadap tuhan yah tanya sama agama dan jangan tanya manusia , klo manusia di tanya tuh brarti pandangan manusia dan bukan pandangan agama terhadap tuhan,
      mending cari sendiri ah di alquran dan hadis he he he

      Reply

    • Posted by atikah luv allah selalu.. on December 4, 2012 at 3:53 pm

      bener sob,,, jangan mempersulit diri.. sekali2 jnganlh engkau berfikir tentang bagaimana Allah.. niscaya engkau tak aka sampai pada puncak fikiranmu,, semakin kau cari semakinbingunglah engkau.. semakin bingung maka tanyakanlah pada dirimu sendiri…” Yakinkah saya dengan kebenaran allah..?” tanyakan dan tanyakn jika engkau memang beriman pada Nya…

      Reply

  4. Posted by ronald pangabean on November 18, 2010 at 5:33 pm

    ketika kita berfikir bahwa begitu hebatnya akal, kadangkala kita lupa memikirkan siapa yang membuat akal. jika akal saja begitu hebatnya, bagaimana lagi dzat yang menciptakan akal?
    Bagi saya, akal dan panca indra mungkin hebat,namun tetap memiliki keterbatasan.Perhatikan teori tentang terjadinya alam semesta,temukan yang paling tepat bagi anda, lalu tanyakan dari mana materi pertama lahirnya kehidupan diciptakan? apakah materi tersebut simsalabim lahir begitu saja?jika anda berfikir bahwa materi dapat hadir tanpa diciptakan, maka besok pagi anda pergi ke garasi,percayalah ada mobil BMW yang simsalabim tersedia digarasi anda. Pertanyaannya apa mungkin?

    Reply

  5. podo setuju mang Agama hnyalah sbgai simbol bagi penguasa dan penghancuran serta kebahagiaan semu,klw pingin bahagia ya bukan di dunia

    Reply

  6. Posted by cahaya-kebenaran on July 18, 2012 at 11:32 am

    Berbagai kekeliruan mendasar kacamata sudut pandang atheistik (cara mendasar untuk meruntuhkan argumentasi atheistik)

    1.Atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera,sehingga definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera.sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.Atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ini ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat (sehingga sibaik dan sijahat hidupnya sama sama berakhir dikuburan) maka kehidupan akan menjadi GANJIL ! dalam arti menjadi tidak sistematis-tidak bisa difahami oleh cara berfikir logika akal.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi dengan mengatasnamakan ‘logika’ tapi anehnya mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja dianggap belum memuaskan dan cenderung ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist sebenarnya selalu pada hal hal yang lahiriah yang tertangkap langsung mata telanjang.
    Dan bila kita kaji beragam pemikirannya maka sebenarnya terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,salah satu nya misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka akan menjadi teramat banyak banyak kebetulan yang terjadi di alam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari adanya desainer,yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan konsep agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama ‘rasionalitas’ berarti : murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah : akalnya bisa menangkap beragam konsep dari manapun datangnya apakah itu yang datang dari realitas yang nampak mata maupun yang datang dari realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat secara berimbang kepada dua dimensi realitas yang berbeda (ke yang abstrak dan ke yang konkrit),beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’ (hanya awas ke dunia alam lahiriah-material yang tertangkap dunia indera).

    Reply

  7. organel sel

    Reply

  8. agama sbg pandangan hidup bgi manusia….

    Reply

  9. Posted by atikah luv allah selalu.. on December 4, 2012 at 3:56 pm

    “islam jalan hidupku”

    Reply

  10. Posted by Anonymous on January 20, 2013 at 9:59 am

    Tuhan tidak pernah membawa agama. Agama hanyalah tawaran yang memiliki jalan bagaimana cara kita menyembah Tuhan. dan agama tidak bisa menyelamatkan kita, apapun agama kita kalau tidak mempunya kerohanian itu omong kosong belaka. pertanyaannya, apakan orang2 beragama yang saling perang satu sama lain itu sudah memiliki kerohanian.? Sebab Tuhan sudah mengajarkan kita kebaikan, dan segala sesuatu keburukan itu di sebabkan oleh setan.. jadi kita tinggal pilih, Tuhan atau setan.??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: